"Yang akan lewat nanti adalah penghuni surga,"
Wajah cahaya itu tersenyum. Gemerlap cahaya bintang di matanya menyinarkan akan sebuah kebahagiaan. Para sahabat yang duduk menghadapnya memperlihatkan wajah serius penuh antusias.
Tak lama orang yang dinanti itu menampakkan wajahnya. Melewati Rasulullah SAW dan para sahabat yang penasaran dengan sosok itu. Lelaki itu berlalu dengan membawa terompahnya. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Dia layaknya lelaki kebanyakan. Tidak ada yang menandakan bahwa dia adalah ahli surga.
Ini adalah kesekian kalinya Rasulullah SAW mengucapkan hal itu pada para sahabat dalam majelisnya. Menumbuhkan kecemburuan di diri para sahabat tentang penghuni surga itu. Salah seorang sahabat pun penasaran, amalan apa yang kelak diperbuat oleh lelaki ini hingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Sahabat ini bernama Ali bin Abi Thalib.
Ali pun meminta izin untuk menginap di rumah lelaki penghuni surga itu. Tak ada amalan istimewa selama Ali menginap di rumah lelaki penghuni surga ini. Sholat dan ibadah hariannya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Lalu apa yang membuatnya bisa menjadi orang yang dijamin masuk ke dalam surga?
***
Tak lama orang yang dinanti itu menampakkan wajahnya. Melewati Rasulullah SAW dan para sahabat yang penasaran dengan sosok itu. Lelaki itu berlalu dengan membawa terompahnya. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Dia layaknya lelaki kebanyakan. Tidak ada yang menandakan bahwa dia adalah ahli surga.
Ini adalah kesekian kalinya Rasulullah SAW mengucapkan hal itu pada para sahabat dalam majelisnya. Menumbuhkan kecemburuan di diri para sahabat tentang penghuni surga itu. Salah seorang sahabat pun penasaran, amalan apa yang kelak diperbuat oleh lelaki ini hingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Sahabat ini bernama Ali bin Abi Thalib.
Ali pun meminta izin untuk menginap di rumah lelaki penghuni surga itu. Tak ada amalan istimewa selama Ali menginap di rumah lelaki penghuni surga ini. Sholat dan ibadah hariannya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Lalu apa yang membuatnya bisa menjadi orang yang dijamin masuk ke dalam surga?
***
Mimpi. Mimpi apa yang selama ini ada di benakku? Yang berpuluh-puluh meter, bukan 5 cm seperti yang dikatakan wanita itu. Keliling dunia, punya uang banyak, beli gadget favorit, dan yang lainnya. Mimpi-mimpi dunia yang semu semata.
Saya merasa kerdil sekali berada di hadapan mereka. Mereka yang hebat dengan karyanya dan berjuang penuh keyakinan akan mimpi indah yang akan mereka wujudkan.
"Inget Yas, kalo bermimpi itu tempatkan 5 cm di depan wajah kita, sehingga kita selalu menggebu untuk mewujudkannya," terang seseorang dari mereka suatu kali.
Lalu apa mimpi mereka?
"Islam ini indah, Islam ini cinta. Bukan Islam yang salah tapi mereka yang belum memahaminya dengan baik,"
Berdakwah untuk memajukan Islam dengan karya-karya tangan kecil mereka. Serasa ada air yang menyiram hati ini saat mendengar mereka berbicara. Kristal bening seakan berdesakn untuk keluar dari mata ini.
"Apakah kita sudah yakin bisa masuk surga? Untuk itulah kita harus berkarya dan memperbanyak amal kita,"
Dada ini kembali bergemuruh. Sesak dan sempit. Seakan diri menjadi kecil dan kerdil.
Kali lain suara ini menjelma menjadi cambuk hati yang teramat sakti.
Mereka bukan orang-orang sembarangan. Mereka orang-orang kaya yang mempunyai penghasilan besar dan hidup yang menarik. Namun mereka tidak sungkan berpeluh untuk berjalan kesana-kemari. Mempromokan sesuatu yang baik tanpa merasa derajatnya direndahkan. Menyebarkan kebaikan dengan setiap kata dan lisan serta karya mereka.
Dan mereka benar-benar bekerja. Ikhlas. Gembira. Dan tanpa keluh. Mengingatnya saja sudah membuat hati bergemuruh.
Mereka bergerak, bergerak dan bergerak. Menjihadkan harta dan jiwa mereka. Fisabilillah. Tak peduli apapun yang terjadi mereka tetap bergerak. Selama pergerakan itu menuju kebaikan, bermuara surga.
Ketika kita sedang lemah dan berdarah. Ketika hati sedang gersang dan hidup terasa sempit. Ketika terjatuh dalam di sebuah lorong gelap dan semakin menjauh. Maka mantra yang keluar dari mulut dan tulisan mereka menjadi keajaiban yang tak diragukan lagi kebenarannya. Menghancurkan rasa malas, kejumudan, stagnanisasi, dan berubah menjadi pijakan untuk meloncat lebih tinggi. Itulah, jika menempatkan Allah sebagai tujuan. Bukan mencari popularitas manusia.
Jika kita bertemu dengan mereka dan mendengarkan mereka berbicara, maka seakan dunia magic Harry Potter benar-benar menjelma. Kata-kata yang mereka ucapkan seolah mantra yang membuat kita yang mendengarnya menjadi terlena dan terpana. Kata-kata itu lalu menghujam ke jantung kita dan menjadikan tonggak motivasi yang besar untuk melalkukan suatu kebaikan.
Semakin terasa aneh ketika banyak aktivis dakwah yang notabene sejalur dengan mereka ikut memfitnah dan mencurigai mereka. Entah bagaimana, status-status mereka yang biasanya menyejukkan tiba-tiba berubah menjadi ajang santap daging saudara mereka sendiri. Sebagian yang lain membalut fitnah ini dengan untaian-untain hadits dan kata-kata mutiara yang samar menutupi fitnahan mereka. Astaghfirullah! Naudzubillah!
Hingga suatu hari fitnah kejam itu melanda. Memutarbalikkan fakta yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan 100%. Merusak nama mereka dan tersebar begitu luas dengan hanya sekali klik! Bahkan ketika mereka telah menulis klarifikasi, masih banyak yang mengiranya sebagai topeng. Menuduhnya lebih cinta dunia dan sudah menjauh dari jalur Islam yang dulu pernah mengantarkannya merebut hidayah. Fitnah keji yang entah dimulai dari siapa.
Namun apa yang mereka katakan?
"Sudah biarkan saja, kita doakan saja mereka menjadi baik,"
Sungguh lapangnya dada mereka. Mampu memaafkan walaupun terasa sesak. Melupakan hal yang tidak produktif dan fokus pada tujuan mereka. Berdakwah dan menuju surga-Nya. Tidak salah jika pada akhirnya saya merasa bahwa dia adalah calon 'penghuni surga'. Tidak terlalu mencolok dalam ibadah di hadapan manusia namun berjiwa pemaaf. Berbeda dengan mereka yang mencolok dalam beribadah namun hati penuh kebencian, iri dan dengki.
Masya Allah! Bergetar lagi hati ini. Walaupun saya yakin mereka juga sudah "gerah" tapi samudra kasih sayang mereka mengalahkan rasa ingin membalas keburukan dengan keburukan. Justru mereka membalasnya dengan doa, untaian terbaik dari seorang muslim. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, "Balaslah keburukan itu dengan kebaikan,". Susah! Tapi mereka telah membuktikannya. Subhanallah.
Ya, tak ada yang lebih layak lagi bagi mereka semua selain surga Firdaus Allah SWT kelak.
***
"Siapa dia, Yaa Rasulullah? Siapa dia penghuni surga itu? Aku tak menemukan keistimewaan dalam ibadahnya,"
Ali menanyakan itu secara langsung kepada Rasulullah SAW setelah membersamai lelaki penghuni surga itu selama tiga hari.
Senyum itu mengembang. Senyum yang membahagiakan orang yang melihatnya.
"Orang ini tidak menyimpan dendam dalam hatinya, tidak pula kebencian kepada orang lain. Hatinya bersih dari noda hawa dan nafsu amarah, iri hati, dendam dan hasad. Hati yang bersih itulah yang menghantarkan ia masuk ke surga!”
Subhanallah.... dan saya melihat penghuni surga ini menjelma pada mereka ini. Insya Allah***
Saya merasa kerdil sekali berada di hadapan mereka. Mereka yang hebat dengan karyanya dan berjuang penuh keyakinan akan mimpi indah yang akan mereka wujudkan.
"Inget Yas, kalo bermimpi itu tempatkan 5 cm di depan wajah kita, sehingga kita selalu menggebu untuk mewujudkannya," terang seseorang dari mereka suatu kali.
Lalu apa mimpi mereka?
"Islam ini indah, Islam ini cinta. Bukan Islam yang salah tapi mereka yang belum memahaminya dengan baik,"
Berdakwah untuk memajukan Islam dengan karya-karya tangan kecil mereka. Serasa ada air yang menyiram hati ini saat mendengar mereka berbicara. Kristal bening seakan berdesakn untuk keluar dari mata ini.
"Apakah kita sudah yakin bisa masuk surga? Untuk itulah kita harus berkarya dan memperbanyak amal kita,"
Dada ini kembali bergemuruh. Sesak dan sempit. Seakan diri menjadi kecil dan kerdil.
Kali lain suara ini menjelma menjadi cambuk hati yang teramat sakti.
Mereka bukan orang-orang sembarangan. Mereka orang-orang kaya yang mempunyai penghasilan besar dan hidup yang menarik. Namun mereka tidak sungkan berpeluh untuk berjalan kesana-kemari. Mempromokan sesuatu yang baik tanpa merasa derajatnya direndahkan. Menyebarkan kebaikan dengan setiap kata dan lisan serta karya mereka.
Dan mereka benar-benar bekerja. Ikhlas. Gembira. Dan tanpa keluh. Mengingatnya saja sudah membuat hati bergemuruh.
Mereka bergerak, bergerak dan bergerak. Menjihadkan harta dan jiwa mereka. Fisabilillah. Tak peduli apapun yang terjadi mereka tetap bergerak. Selama pergerakan itu menuju kebaikan, bermuara surga.
Ketika kita sedang lemah dan berdarah. Ketika hati sedang gersang dan hidup terasa sempit. Ketika terjatuh dalam di sebuah lorong gelap dan semakin menjauh. Maka mantra yang keluar dari mulut dan tulisan mereka menjadi keajaiban yang tak diragukan lagi kebenarannya. Menghancurkan rasa malas, kejumudan, stagnanisasi, dan berubah menjadi pijakan untuk meloncat lebih tinggi. Itulah, jika menempatkan Allah sebagai tujuan. Bukan mencari popularitas manusia.
Jika kita bertemu dengan mereka dan mendengarkan mereka berbicara, maka seakan dunia magic Harry Potter benar-benar menjelma. Kata-kata yang mereka ucapkan seolah mantra yang membuat kita yang mendengarnya menjadi terlena dan terpana. Kata-kata itu lalu menghujam ke jantung kita dan menjadikan tonggak motivasi yang besar untuk melalkukan suatu kebaikan.
Semakin terasa aneh ketika banyak aktivis dakwah yang notabene sejalur dengan mereka ikut memfitnah dan mencurigai mereka. Entah bagaimana, status-status mereka yang biasanya menyejukkan tiba-tiba berubah menjadi ajang santap daging saudara mereka sendiri. Sebagian yang lain membalut fitnah ini dengan untaian-untain hadits dan kata-kata mutiara yang samar menutupi fitnahan mereka. Astaghfirullah! Naudzubillah!
Hingga suatu hari fitnah kejam itu melanda. Memutarbalikkan fakta yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan 100%. Merusak nama mereka dan tersebar begitu luas dengan hanya sekali klik! Bahkan ketika mereka telah menulis klarifikasi, masih banyak yang mengiranya sebagai topeng. Menuduhnya lebih cinta dunia dan sudah menjauh dari jalur Islam yang dulu pernah mengantarkannya merebut hidayah. Fitnah keji yang entah dimulai dari siapa.
Namun apa yang mereka katakan?
"Sudah biarkan saja, kita doakan saja mereka menjadi baik,"
Sungguh lapangnya dada mereka. Mampu memaafkan walaupun terasa sesak. Melupakan hal yang tidak produktif dan fokus pada tujuan mereka. Berdakwah dan menuju surga-Nya. Tidak salah jika pada akhirnya saya merasa bahwa dia adalah calon 'penghuni surga'. Tidak terlalu mencolok dalam ibadah di hadapan manusia namun berjiwa pemaaf. Berbeda dengan mereka yang mencolok dalam beribadah namun hati penuh kebencian, iri dan dengki.
Masya Allah! Bergetar lagi hati ini. Walaupun saya yakin mereka juga sudah "gerah" tapi samudra kasih sayang mereka mengalahkan rasa ingin membalas keburukan dengan keburukan. Justru mereka membalasnya dengan doa, untaian terbaik dari seorang muslim. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, "Balaslah keburukan itu dengan kebaikan,". Susah! Tapi mereka telah membuktikannya. Subhanallah.
Ya, tak ada yang lebih layak lagi bagi mereka semua selain surga Firdaus Allah SWT kelak.
***
"Siapa dia, Yaa Rasulullah? Siapa dia penghuni surga itu? Aku tak menemukan keistimewaan dalam ibadahnya,"
Ali menanyakan itu secara langsung kepada Rasulullah SAW setelah membersamai lelaki penghuni surga itu selama tiga hari.
Senyum itu mengembang. Senyum yang membahagiakan orang yang melihatnya.
"Orang ini tidak menyimpan dendam dalam hatinya, tidak pula kebencian kepada orang lain. Hatinya bersih dari noda hawa dan nafsu amarah, iri hati, dendam dan hasad. Hati yang bersih itulah yang menghantarkan ia masuk ke surga!”
Subhanallah.... dan saya melihat penghuni surga ini menjelma pada mereka ini. Insya Allah***
Bekasi, 17th of March 2016
Beberapa menit menjelang Dzuhur
Lupa Bawa HP!

No comments:
Post a Comment