Selanjutnya setelah sekolah libur, maka kesempatan untuk itikaf menjadi lebih leluasa kembali.
Itikaf pertama saya adalah di sekolah almamater saya di SMAN 43 Jakarta. Subhanallah... ternyata sepi dan kosong melompong. Ketika saya baru sampai kebetulan ketemu dengan beberapa orang teman yang tampaknya sedang mau itikaf di masjid lain. Tapi niat saya kan itikaf bukan untuk ngumpul-ngumpul jadi dengan kesendirian ini justru menurut saya Insya Allah bisa mengkhusyukan ibadah itikaf saya.
Sebetulnya ketika awal Ramadhan datang, saya sudah meniatkan untuk itikaf 10 days full! Tapi yang namanya gangguan ada aja datengnya. Jadi masih seperti tahun-tahun sebelumnya, itikafnya masih itikaf latihan, yaitu itikaf yang pulang pergi. Malam di Masjid, pagi sudah kembali ke rumah lagi.
Kesendirian saya di Masjid yang saya sendiri masih kurang paham gimana menyalakan lampu atau kipas anginnya ini, ternyata cuma sebentar saja. Tak lama datang Pak Syibli. Pak Syibli ini adalah tokoh masyarakat yang setiap bulan Ramadhan selalu menjadi imam sholat taraweh. Beliau sudah hampir lebih dari 20 tahun membimbing dan menjadi imam sholat di masjid sekolah kami ini. Sebenarnya beliau punya partner yang juga sering sholat bersama beliau ketika Ramadhan tiba. Namanya Pak Asmit. Namun setahun sebelumnya Allah sudah terlebih dahulu memanggil beliau. Berbeda dengan Pak Syibli yang kalem dan adem, Pak Asmit ini lebih tegas dan keras. Dia pula lah yang sering membantu kami untuk mengadakan kegiatan-kegiatan Rohis. Dari kocek beliau juga setiap tahunnya keluar uang untuk keperluan sholat taraweh. Semoga Allah menerima amal baik Pak Asmit dan Pak Syibli.
Tak lama sesudahnya datang juga dua orang adik angkatan saya di Rohis, Engga dan Rahman. Jadilah saya tidak itikaf sendirian lagi :) Khusus untuk masjid baru yang sepi ini akan saya tulis di postingan khusus.
| Pak Syibli yang walaupun sudah senior masih setia membimbing |
Saya juga menyempatkan diri untuk jajal Itikaf di Masjid Jami Al Azhar Jakapermai. Saya lupa tepatnya malam keberapa (yang pasti malam ganjil :). Sebenarnya bukan real itikaf, karena saya datang kesana sekitar jam 3 dini hari. Namun yang membuat saya bingung adalah kok tidak ada qiyamul lail ya? Usut punya usut, ternyata di masjid ini Qiyamul lail dilakukan secara sendiri-sendiri. Pantas saja jam 3 pagi sudah tidak ada aktivitas bersama-sama. Akhirnya saya qiyamul lail sendiri.
Ternyata di perkarang masjid ini juga sudah ada beberapa stand-stand makanan untuk sahur. Jadi peserta itikaf yang tidak terdaftar oleh panitia bisa mencari makanan yang diingininya di sini. Mulai dari nasi padang, bakso malang, nasi rames, dll. Juga ada sebuah minimarket yang merupakan anak cabang dari masjid ini. Sangat membantu para peserta itikaf. Terbukti usai mereka menyelesaikan urusannya masing-masing, stand-stand makanan itu langsung dipenuhi oleh para peserta itikaf.
Setelah menyelesaikan semua urusan di Bekasi. Maka saya kembali hijrah ke rumah orang tua saya di Jakarta. Tepat malam ke-27, selalu ada ritual harus ke Masjid Al-Hikmah, Bangka. Masjid yang begitu banyak kenangan akan ghirah yang dulu masih berapi-api. Masjid yang mengajarkan banyak hal. Masjid yang merupakan simbol keshalehan dan kesederhanaan. Masjid yang selalu dinantikan banyak jiwa yang hatinya kering jika Ramadhan tiba. Mengingat Al-Hikmah, seperti dipaksa membuka lembaran masa lalu. Jika mau ditulis, pasti akan menghabiskan banyak kata untuk menggambarkannya.
Dan malam ke 27, Masjid Al-Hikmah dipenuhi kembali para pecinta Tuhannya. Pas saya datang (saya sengaja datang usai sholat Isya), di Masjid ini sedang ada taujih ruhiyah dari Ustadz Hasib Hasan. Saya bertemu dengan mantan binaan saya di sekolah dulu, Ari, yang setiap tahunnya memang selalu bersama saya ke masjid ini. Alhamdulillah saya kebagian juga sholat tarawehnya. Namun di penghujung selesainya taraweh ada satu hal yang sedikit membuat saya risau. Pembawa acara mengumumkan bahwa pada satu rakaat terakhir di witir akan ada qunut sambil pembacaan doa khatam Qur'an. Menilik kejadian tahun-tahun sebelumnya, qunut ini diperkirakan berlangsung selama 45 menit! Agak bimbang juga, karena beberapa tahun sebelumnya sempat gak kuat juga berdiri. Kebetulan pada waktu itu kondisi badan memang sedang tidak fit. Dan pembawa acara pun memberitahukan bahwa para jama'ah yang tidak kuat diperbolehkan untuk duduk. Namun, tadi sebelum masuk masjid ini sempat melihat seorang nenek dengan kursi rodanya, maka azam untuk kuat berdiri terpancang sudah.
Seperti biasanya, dalam doa khatam Qur'an ini pasti akan banjir air mata (sungguh, menuliskan tentang ini saja membuat mata saya kembali berkaca-kaca). Ketika imam membacakan doa-doa yang artinya saya mengerti, maka seolah diri ini sungguh sangat kecil di hadapan Allah. Seperti, saya ini bukan siapa-siapa kalau bukan karena Rahmat dan kebaikan Allah. Maka saya pun mengucapkan amin dengan merengek-rengek kepada Allah layaknya seorang anak yang ingin sesuatu kepada orang tuanya. Ya Allah, betapa nikmatnya jika kita bisa berdoa pada-Mu dan tersungkur malu di hadapan-Mu.
| Masjid Al Hikmah dengan tampilan yang baru |
| Alhamdulillah selalu ada waktu untuk sholat disini |
| Suasana yang ramai |
Biasanya juga, usai makan pecel ayam kami suka beli jus mangga. Namun karena sudah pukul 11 malam, maka warung jus itu sudah tutup. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk itikaf di Masjid Bimantara, Kebon sirih.
Di Masjid ini saya bertemu kembali dengan beberapa teman-teman lama. Ya, saya ngobrol sekadarnya saja, sekedar bersilaturahmi. Setelah itu fokus kembali dengan ibadah individual kami masing-masing.
Ramadhan kali ini...
Terasa sekali kemerosotan dari segi ibadah. Banyak banget menuruti hawa malesnya ketimbang berlomba-lomba memenuhi target. Tapi Ramadhan itu memang sesuatu yang unik, entah darimana, semangat ibadah itu bermunculan denga bertubi-tubi. Doa-doa itu senantiasa tulus. Dan kekuatan untuk tidak makan begitu kuat. Tahun ini nikmat sekali mendoakan keluarga dan teman-teman saya. Jika saat saya mendoakan rekan-rekan di sekolah, maka seolah air mata begitu saja berjatuhan. Juga doa special buat my Abdil dan murid-murid saya yang lain. Allah, aku tahu Kau Maha Mendengarkan doa hamba-Mu. Dan aku tahu, tak ada doa yang tak akan kau kabulkan.
Hingga pada malam menjelang Ramadhan-Mu berlari, sungguh banyak penyesalan menyesakkan dada hamba. Penyesalan yang selalu berulang bilangan. Seperti orang dungu yang tak pernah belajar dari kesalahannya. Allah, aku malu sekali. Ramadhan, Laila, bisakah bertemu dengan kalian kembali dalam keadaan yang sudah baik. Niat yang sama setiap tahun, namun menguap begitu saja sampai menjelang. Ya Allah, aku malu, mengetuk di pintu-Mu namun tak ada kebanggaan yang bisa kupamerkan pada-Mu. Aku malu....
Dan malam di penghujung Ramadhan pun, saya kembali tersungkur pada pintu Rahmat-Mu. Mengetuknya berkali-kali, namun tak tahu apakah Kau membukakannya atau tidak. Sementara Ramadhan dan Laila sudah terbang jauh entah kemana. Ya Allah, kubawa dosa ini lagi, lalu seperti biasa, kau memaafkan kembali. Adakah nikmat yang lebih indah selain nikmat Islam dan mendapatkan maaf dan Rahmat dari-Mu?
Ramadhan sudah pergi.....
Bersama kenangan dan tekad yang mungkin jika Allah mengehendaki akan terualang kembali. Lalu, kapan kau bisa mengambil pelajaran Yas? Nantikah, ketika tubuhmu sudah terbujur kaku berbalut selimut putih penanda akhir hidupmu? Allah maafkan hamba-Mu. Fitri-Mu menjadi obat terbesar bagi hamba. Allah, dekatlah padaku, jangan jauh atau terlalu jauh***(yas).
Jakarta, 4th August 2014
01.14 am @my mom's room
accompany with murottal
#FreedomGaza
No comments:
Post a Comment