My Playlist

Thursday, January 14, 2016

Sedekah Bijak




Malam itu lagi kepengen banget makan salad-nya Pizza Hut. Efek dari bangun tidur sampe menjelang malam belum makan nasi, maka yang diincer sehabis sholat Isya adalah SALAD! Kebetulan kakak saya membelikan anaknya alias keponakan saya, Bento Teriyakinya KFC, jadilah saya kepengen juga. OMG! Biasanya sih cuma laper mata aja, setelah itu ujung-ujungnya pasti gak abis. Hadeeehh...

Sebelum ke PH deket rumah, saya mampir dulu sebentar ke Indomaret untuk membayar TV Langganan. Saat masuk saya melihat tiga orang sedang sibuk di meja kasir menukarkan uang receh yang mereka punya. Awalnya sih saya biasa aja tapi setelah selesai dengan mesin kiosk Indomaret saya mengantre di kasir untuk membayar bill saya. Dan dengan jelas saya melihat berkantung-kantung ruang receh ditukarkan ketiga orang tersebut. Dari penampilannya saya bisa memastikan bahwa ketiga orang tersebut adalah pengamen. Keyakinan saya diperjelas dengan gitar yang disandang salah seorang dari mereka dan gendang oleh seorang yang lain. 

Saya melihat kantong-kantong uang itu dengan mata kepala saya sendiri. Jika dirupiahkan mereka mendapatkan kurang lebih sekitar 400-500 ribu! Itu terlihat dari kantong-kantong plastik yang telah ditulisi oleh kasir Indomaret. OMG! This is insane! Since I only got half less than theirs. Jika rata-rata keuntungan bersih mereka sekitar 300 ribuan dan mereka mendapatkan penghasilan itu selama 20 hari kerja misalnya, so they have got 6 millions a month!! *kejang-kejang

Pagi sebelumnya, saat saya ke Alfamart, saya juga melihat tiga anak kecil menukarkan uang receh  dan mereka mendapatkan uang 100 ribu. Padahal itu masih tengah hari. Gak kebayang, mereka akan dapat berapa jika menukarkan recehan itu pada sore hari.

Kemudian saya teringat dengan sebuah artikel yang pernah di share seorang teman di beranda facebooknya. Seorang temannya, menolak untuk memberikan rupiahnya kepada seorang pengemis di pinggir jalan. Sebaliknya dia malah memberikan uang lebih kepada seorang tua renta yang menjual sapu lidi. Pada kesimpulan orang tersebut, memberikan uang kepada pengemis adalah sebuah kesalahan karena membuat mereka menjadi malas dan enggan bekerja. Apalagi pengalaman orang tersebut yang mendapatkan penolakan dari seorang pengemis yang diajaknya bekerja tetapi malah ditolak mentah-mentah dikarenakan pendapatan mengemisnya lebih besar daripada bekerja pada orang tersebut. Ditambah lagi sekarang pengemis sudah mempunyai koordinator yang akan mengkordinir kerja mereka. Siapa yang tidak tergiur dengan duduk-duduk di pinggir jalan mengharap belas kasih orang lalu mendapatkan uang lebih besar dari mereka yang bekerja.

Kemudian ada orang-orang yang bekerja menjual sesuatu sekuat tenaga mereka demi menghindari diri dari pekerjaan mengemis. Kadang yang mereka jual pun tidak semua orang membutuhkannya. Sehari bisa terjual lebih dari satu saja mungkin tidak setiap hari terjadi. Belum lagi betapa lelahnya mereka menjajakan di pinggir jalan tapi hingga hari usai belum ada yang membeli barang dagangan mereka. Pada suatu kasus bahkan ada yang berjalan sepanjang hari sejauh mata memandang, namun barang yang dijual hanya terjual satu atau dua saja :'( :'( Maka tidak salah jika orang tersebut memberikan uang lebihnya untuk seorang penjual renta tersebut. Karena disitu ada usaha mereka untuk bekerja dan mendapatkan rizki secara barokah. 

Hiks, saya jadi teringat beberapa orang penjual langganan saya ataupun yang pernah saya temui. Ada seorang nenek yang berjalan jauh demi menjajakan kue pisang miliknya, ada seorang bapak yang memanggul lemari, ada bapak lainnya yang membawa bale kayu, dan lainnya. Sesungguhnya merekalah yang layak mendapatkan uang lebih dari kita. Namun kadang jika ada orang yang membeli  barang dagangan mereka, mereka akan menawarnya serendah mungkin. Bandingkan jika kita masuk ke sebuah mall dan membeli seuatu yang mahal, There's no bargain! Diterima saja walaupun kadang ada penyesalan di belakang. 

Begitu juga dengan pengamen jalanan. Jangan sangka mereka hidup berkekurangan, sebagian dari mereka justru hidup berkecukupan. Seperti pengalaman saya di atas tadi saat melihat pada pengamen itu menukarkan uang recehnya. Dulu saya pun punya tetangga 'keluarga pengamen' yang berangkat 'kerja' sore dan pulang malam. Pada waktu itu mereka mengontrak di depan rumah saya. Ibunya selalu memakai gelang emas bersusun, anak-anaknya selalu membeli mainan model terbaru, ayahnya mempunyai motor RX King yang zaman itu happening banget! Dan keluarga itu satu-satunya di lingkungan kami yang mempunyai decorder! Zaman itu kalau mau nonton TV swasta harus punya decorder.

Saya pun merenung kembali sepanjang membeli salad dan bento teriyaki itu :) Saya pernah membaca kondisi mental dengan memanfaatkan rasa kasihan orang lain. Mungkin seperti para pengemis itu. Jadi mereka memanfaatkan belas kasihan kita untuk mendapatkan keuntungan. Berbeda dengan para penjual itu yang pada dasarnya mereka tidak pernah minta untuk dikasihani. 

Dan saya pun pada akhirnya harus berpikir ulang untuk mensedekahkan sedikit uang saya ini, apakah diberikan kepada para pengemis dan pengamen itu atau pada orang yang bekerja keras tersebut. Ya, keduanya 'bekerja' dengan versi mereka masing-masing. Yang satu benar bekerja, sedangkan yang satunya pura-pura bekerja. Wallahu'alam bishowab.

Sepenuhnya saya sangat setuju dengan tindakan yang dilakukan orang pada artikel facebook yang dishare teman saya tersebut. Menghargai yang bekerja dan memberi pelajaran bagi yang malas bekerja. Akhir kata, saya teringat sebuah hadits yang mengatakan : Berilah kail bukan hanya memberi ikan,". Menghargai orang lain dengan memberinya reward uang berlebih lebih baik daripada memberikan uang kepada orang lain yang tak jelas digunakan untuk apa.

Yuk, kita lebih bijak untuk bersedekah!***(yass)



Cipinang, 14 of January 2016.
20.17 pm at J.Co
I want you for worse and better!



No comments:

Post a Comment