“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekedar melewati jalan (musafir). Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datang kematianmu.” Hadits Riwayat Bukhari
My Playlist
Monday, March 18, 2013
Biarkan Batu Ini Melayang (Episode 1)
" Why???"
Suara Jessica terdengar satu ruangan. Semua orang yang ada di ruangan itu berbalik menatapnya.
Kemudian mata ayah Jessica, Pendeta Christian Walker membulat menatapnya. Dan Jessica paham dengan arti tatapan itu, dia tidak diperbolehkan bertanya lebih jauh lagi. Sisanya, membiarkan tanya-tanya itu berkeliaran bebas di lubuk sanubari terdalamnya.
Jessica hanya heran, mengapa. Mengapa ketika ada pertumpahan darah di Palestina akibat serangan Israel, orangtuanya tidak pernah membela. Mereka hanya mengatakan, "Itu usaha mereka untuk membela diri, anakku. Kau tahu betapa jahatnya orang-orang Palestina itu,".
Dan hal itu akan menjadi berbeda jika yang terjadi adalah serangan bom di sebuah kedutaan Amerika Serikat atau penyerangan bom di negara-negara Barat. " Kau lihat, siapa yang terbukti sebagai terroris?".
Otak kecil Jessica tak menerima itu semua. Dia selalu punya pertanyaan besar, Why?? Kenapa harus orang-orang muslim yang disebut sebagai teroris? Bukankah penduduk Palestina melakukan hal itu juga karena upaya pembelaan diri terhadap Israel yang mengambil semua wilayah negara mereka? Dan hal ini selalu Jessica bawa kemanapun dia berada. Dia akan bertanya tentang hal itu dimana saja, kecuali di rumahnya.
Berangkat dari hal itulah Jessica akhirnya memutuskan untuk menjadi aktivis kemanusiaan. Ya, pertanyaan tentang ketidakadilan semasa kecilnya itulah yang membuat dia memutuskan untuk menjadi aktivis kemanusiaan. Dia bergabung bersama International Solidarity Movement.
***
" Kau akan diberangkatkan ke Palestina Jess. Ke Gaza tepatnya," Paul Harisson, ketua ISM itu berkata padanya.
Jessica tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Palestina, Gaza, sedari dulu dia mengharapkan untuk dikirim kesana. Sejak dia mendengar cerita dari Nick, sahabatnya di ISM, tentang perjuangan yang sungguh menantang di Palestina.
"Orang-orang Palestina tidak akan seagressif itu jika bukan Israel yang memulainya," terang Nick suatu ketika, usai dia sampai di New York kembali. Nick pun berbagi pengalamannya semasa dia bertugas di Jalur Gaza. Dan semenjak itu Jessica selalu berambisi untuk pergi ke Palestina. Hingga Paul tadi menugaskannya.
Jessica menyiapkan beberapa dokumen yang akan dibawanya. Beberapa keperluannya selama di Palestina dan tak lupa dia membawa beberapa helai kafiyeh yang dibelinya secara online. Paul sudah mengurus visanya. Mereka akan mengunjungi Mesir terlebih dahulu, setelah itu akan melakukan perjalanan darat menuju Gaza. Jessica dijadwalkan tinggal disana selama satu bulan.
Jessica membuka Macbook-nya. Dia membuka email dan segera menulis email untuk seorang temannya yang ada di Mesir.
Hi Joss,
Minggu depan aku berencana akan ke Palestina lewat darat dari Mesir. Akan merupakan satu kebagiaan jika kau bisa menjadi tour guide-ku selama di Mesir.
Jossef Tabrouk adalah teman Jessica semasa kuliah di Boston. Kebetulan mereka satu kelompok saat menelaah mata kuliah tentang konflik Timur Tengah.
Jessica merapikan kembali beberapa barang yang akan dibawanya. Tak lama dia mengambil wireless phone-nya. Dia berencana menghubungi keluarganya di Boston. Bagaimanapun juga dia harus izin pada mereka. Sudah lebih dari 5 tahun, Jessica memutuskan untuk meninggalkan rumah dan berdiri dengan kakinya sendiri. Dia tinggalkan semua dogma yang pernah dipaksakan masuk ke dalam otak kecilnya. Dia lelah. Dan terasa membosankan membiarkan pertanyaan-pertanyaan ganjil tentang dogma itu tak terjawab. Sekarang dia sudah merasa bebas dengan apa yang dipilihnya. Ya, walaupun hal itu membuat ayah dan ibunya marah kepadanya. Terlebih saat perayaan hari Thanksgiving dua tahun yang lalu saat Jessica mengutarakan bahwa agamanya adalah : KEMANUSIAAN. Membuat orang tua dan saudara-saudaranya membelalakkan mata.
" Jess, jangan lupa, minggu depan kau akan berangkat ke Palestina bersama Diana, Trey dan Allan. Aku sudah menyiapkan dokumen-dokumen perjalananmu. Jangan lupa menulis surat untuk mereka yang kau sayang, karena kau tidak akan pernah tahu kapan peluru freakin army itu mengenai-mu. Love you Jess,"
Pesan suara dari Paul. Jessica tertawa kecil saat mendengar Paul mengucapkan "freakin' Army". Itu adalah julukan Jessica dan teman-temannya bagi tentara Israel. Ya, Paul benar, malam ini dia akan menulis surat untuk orang-orang yang dia sayangi. Tak lupa dia akan menulis surat juga untuk Loren, kekasihnya yang tewas terkena peluru "freakin' army" itu saat dia sedang bertugas di Tepi Barat.
Malam pun beranjak naik ke peraduan.
(BERSAMBUNG)
Jakarta, 18th November 201201.28 am in my bedroom
All love for Palestinians tonight
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment