My Playlist

Wednesday, February 8, 2017

I'm Moving


Salam Everyone!

Bersamaan dengan postingan ini, saya ingin memberitahukan bahwa blog saya sudah pindah ke :

yassaja.blogspot.com

Karena yang ini ada suatu hal yang mengharuskan saya untuk bikin blog baru lagi. 

Tapi tenang saja, isi dari blog ini masih bisa dibaca dan dishare. 

Terima Kasih!


Wednesday, March 16, 2016

PENGHUNI SURGA




"Yang akan lewat nanti adalah penghuni surga,"

Wajah cahaya itu tersenyum. Gemerlap cahaya bintang di matanya menyinarkan akan sebuah kebahagiaan. Para sahabat yang duduk menghadapnya memperlihatkan wajah serius penuh antusias.
Tak lama orang yang dinanti itu menampakkan wajahnya. Melewati Rasulullah SAW dan para sahabat yang penasaran dengan sosok itu. Lelaki itu berlalu dengan membawa terompahnya. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Dia layaknya lelaki kebanyakan. Tidak ada yang menandakan bahwa dia adalah ahli surga.

Ini adalah kesekian kalinya Rasulullah SAW mengucapkan hal itu pada para sahabat dalam majelisnya. Menumbuhkan kecemburuan di diri para sahabat tentang penghuni surga itu. Salah seorang sahabat pun penasaran, amalan apa yang kelak diperbuat oleh lelaki ini hingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Sahabat ini bernama Ali bin Abi Thalib.

Ali pun meminta izin untuk menginap di rumah lelaki penghuni surga itu. Tak ada amalan istimewa selama Ali menginap di rumah lelaki penghuni surga ini. Sholat dan ibadah hariannya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Lalu apa yang membuatnya bisa menjadi orang yang dijamin masuk ke dalam surga?

***
Mimpi. Mimpi apa yang selama ini ada di benakku? Yang berpuluh-puluh meter, bukan 5 cm seperti yang dikatakan wanita itu. Keliling dunia, punya uang banyak, beli gadget favorit, dan yang lainnya. Mimpi-mimpi dunia yang semu semata.

Saya merasa kerdil sekali berada di hadapan mereka. Mereka yang hebat dengan karyanya dan berjuang penuh keyakinan akan mimpi indah yang akan mereka wujudkan.

"Inget Yas, kalo bermimpi itu tempatkan 5 cm di depan wajah kita, sehingga kita selalu menggebu untuk mewujudkannya," terang seseorang dari mereka suatu kali.

Lalu apa mimpi mereka?

"Islam ini indah, Islam ini cinta. Bukan Islam yang salah tapi mereka yang belum memahaminya dengan baik,"

Berdakwah untuk memajukan Islam dengan karya-karya tangan kecil mereka. Serasa ada air yang menyiram hati ini saat mendengar mereka berbicara. Kristal bening seakan berdesakn untuk keluar dari mata ini.

"Apakah kita sudah yakin bisa masuk surga? Untuk itulah kita harus berkarya dan memperbanyak amal kita,"

Dada ini kembali bergemuruh. Sesak dan sempit. Seakan diri menjadi kecil dan kerdil.

Kali lain suara ini menjelma menjadi cambuk hati yang teramat sakti.

Mereka bukan orang-orang sembarangan. Mereka orang-orang kaya yang mempunyai penghasilan besar dan hidup yang menarik. Namun mereka tidak sungkan berpeluh untuk berjalan kesana-kemari. Mempromokan sesuatu yang baik tanpa merasa derajatnya direndahkan. Menyebarkan kebaikan dengan setiap kata dan lisan serta karya mereka.

Dan mereka benar-benar bekerja. Ikhlas. Gembira. Dan tanpa keluh. Mengingatnya saja sudah membuat hati bergemuruh.

Mereka bergerak, bergerak dan bergerak. Menjihadkan harta dan jiwa mereka. Fisabilillah. Tak peduli apapun yang terjadi mereka tetap bergerak. Selama pergerakan itu menuju kebaikan, bermuara surga.

Ketika kita sedang lemah dan berdarah. Ketika hati sedang gersang dan hidup terasa sempit. Ketika terjatuh dalam di sebuah lorong gelap dan semakin menjauh. Maka mantra yang keluar dari mulut dan tulisan mereka menjadi keajaiban yang tak diragukan lagi kebenarannya. Menghancurkan rasa malas, kejumudan, stagnanisasi, dan berubah menjadi pijakan untuk meloncat lebih tinggi. Itulah, jika menempatkan Allah sebagai tujuan. Bukan mencari popularitas manusia.

Jika kita bertemu dengan mereka dan mendengarkan mereka berbicara, maka seakan dunia magic Harry Potter benar-benar menjelma. Kata-kata yang mereka ucapkan seolah mantra yang membuat kita yang mendengarnya menjadi terlena dan terpana. Kata-kata itu lalu menghujam ke jantung kita dan menjadikan tonggak motivasi yang besar untuk melalkukan suatu kebaikan.

Semakin terasa aneh ketika banyak aktivis dakwah yang notabene sejalur dengan mereka ikut memfitnah dan mencurigai mereka. Entah bagaimana, status-status mereka yang biasanya menyejukkan tiba-tiba berubah menjadi ajang santap daging saudara mereka sendiri. Sebagian yang lain membalut fitnah ini dengan untaian-untain hadits dan kata-kata mutiara yang samar menutupi fitnahan mereka. Astaghfirullah! Naudzubillah!

Hingga suatu hari fitnah kejam itu melanda. Memutarbalikkan fakta yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan 100%. Merusak nama mereka dan tersebar begitu luas dengan hanya sekali klik! Bahkan ketika mereka telah menulis klarifikasi, masih banyak yang mengiranya sebagai topeng. Menuduhnya lebih cinta dunia dan sudah menjauh dari jalur Islam yang dulu pernah mengantarkannya merebut hidayah. Fitnah keji yang entah dimulai dari siapa.

Namun apa yang mereka katakan?

"Sudah biarkan saja, kita doakan saja mereka menjadi baik,"

Sungguh lapangnya dada mereka. Mampu memaafkan walaupun terasa sesak. Melupakan hal yang tidak produktif dan fokus pada tujuan mereka. Berdakwah dan menuju surga-Nya. Tidak salah jika pada akhirnya saya merasa bahwa dia adalah calon 'penghuni surga'. Tidak terlalu mencolok dalam ibadah di hadapan manusia namun berjiwa pemaaf. Berbeda dengan mereka yang mencolok dalam beribadah namun hati penuh kebencian, iri dan dengki.

Masya Allah! Bergetar lagi hati ini. Walaupun saya yakin mereka juga sudah "gerah" tapi samudra kasih sayang mereka mengalahkan rasa ingin membalas keburukan dengan keburukan. Justru mereka membalasnya dengan doa, untaian terbaik dari seorang muslim. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, "Balaslah keburukan itu dengan kebaikan,". Susah! Tapi mereka telah membuktikannya. Subhanallah.

Ya, tak ada yang lebih layak lagi bagi mereka semua selain surga Firdaus Allah SWT kelak.

***

"Siapa dia, Yaa Rasulullah? Siapa dia penghuni surga itu? Aku tak menemukan keistimewaan dalam ibadahnya,"

Ali menanyakan itu secara langsung kepada Rasulullah SAW setelah membersamai lelaki penghuni surga itu selama tiga hari.

Senyum itu mengembang. Senyum yang membahagiakan orang yang melihatnya.

"Orang ini tidak menyimpan dendam dalam hatinya, tidak pula kebencian kepada orang lain. Hatinya bersih dari noda hawa dan nafsu amarah, iri hati, dendam dan hasad. Hati yang bersih itulah yang menghantarkan ia masuk ke surga!”
Subhanallah.... dan saya melihat penghuni surga ini menjelma pada mereka ini. Insya Allah***



Bekasi, 17th of March 2016
Beberapa menit menjelang Dzuhur
Lupa Bawa HP!

Thursday, February 4, 2016

Memoar Keshalehan




Terasa ada sensasi lain di hatiku kala melihat wajahnya yang dulu teduh. Seiris belati seolah menusuk hatiku dan membiarakn darahnya mengalir ditetesi tetesan jeruk nipis. Astaghfirulloh... perihnya... Aku hanya bisa istighfar.

"Masih inget ane kan, Bang?" mata pemilik tatapan teduh itu bersirobok dengan mataku. Senyum dua senti mengembang di wajahnya. Dia menghentikan sepeda motornya tepat di hadapanku.

" Ryan, kan?" jawabku setengah tidak yakin. Walaupun aku selalu hafal nama mantan-mantan muridku terkadang bila yang sudah lama sekali tak jumpa harus menerka-nerka lagi. Ditambah banyak perubahan yang terjadi padanya

" Bener bang! Abang masih inget aja!" senyumnya melebar. Dia lalu mengulurkan tanyannya ke arahku.

Aku menerima uluran tangan itu. 

"Kalau murid yang special pasti selalu Bang Yas ingat. Dan kamu salah satunya Ry," tambahku.

Senyum Ryan makin berkembang. Kemudian kami berbincang-bincang sebentar.

Aku memperhatikan sosok tinggi semampai di depanku itu lagi. Ryan sudah banyak berubah. Tubuhnya tidak kurus lagi seperti dahulu, walaupun juga tidak bisa dibilang gemuk. Kulitnya bersih dan rambut yang dibuatnya berjambul layaknya tokoh Tin Tin. Dan pakaiannya yang tampil trendi bukan lagi baju koko dan sebilah peci yang ada di kepalanya. Serta terselip sebatang rokok dan perempuan yang ada di boncengan belakang motornya.

Aku sengaja tidak bertanya tentang wanita itu. Aku hanya bisa mengira. Wanita itu melepaskan pelukannya saat motor Ryan tadi berhenti di hadapanku.

Tiba-tiba memoriku terputar pada episode-episode Ryan yang lalu.

***

Dia adalah lelaki sholeh. Pandai membaca Al-Qur'an dengan suara tartil yang bagus. Muridku di sebuah SMA. Pakaiannya selalu koko putih dengan kopiah yang menyembul di kepalanya. Wajahnya selalu basah karena wudhunya yang terjaga. Kadang terselip sebuah tasbih di pergelangan tangannya.

Ryan sering berdiskusi denganku. Diskusi berbagai macam hal. Sampai yang paling sering didiskusikan olehnya adalah tentang dakwah fardhiyah yang dilakukannya terhadap teman-temannya yang sering mabuk-mabukan.

"Ane sekarang sedang mencoba bergabung dengan mereka bang," ujarnya suatu ketika. 

"Ikut mabuk?" tembakku sekenanya yang langsung dinyinyiri oleh Ryan.

"Kadang kita perlu masuk dulu ke mereka bang sebelum akhirnya kita bisa memberikan nasehat kepada mereka," ujarnya lagi.

"Yakin?" tanyaku. Wajahku yang tidak yakin membuat Ryan tersenyum.

" Ane mencoba, bang," tambahnya lagi.

" Good Ryan! Jadi apa saja yang kamu lakukan bersama mereka?" aku balik bertanya.

" Ngobrol-ngobrol aja kok Bang, terkadang sampe larut juga," ujarnya.

" Apa gak buang-buang waktu ya Ry? Ada di antara mereka yang ngerokok atau minum ketika kamu ada disitu?" tembakku lagi penasaran.

" Ada Bang. Tapi mereka tetap menghormati ane kok Bang," jawabnya. " Doain ane aja bang, semoga ane tetap istiqomah dan bisa masuk mendakwahi mereka,".

Pembicaraan itu pun terputus. Menurutku bagi orang yang belajar mengenal Islam dengan semangat yang tinggi seperti Ryan sangat riskan untuk berdakwah langsung seperti itu. Menurutku menemani mengobrol justru membiarkan ketidakbaikan itu berlarut-larut dan terkesan membiarkan. Bukankah lebih baik jika langsung berkata-kata saja jika punya kemampuan? Niat mewarnai bisa-bisa malah terwarnai. Aku hanya bisa berdoa untuk Ryan.

Kali lain aku melihat Ryan begitu serius menatap HP nya sambil mengetik tombolnya.

" Serius amat Ry?" sapaku.

Ryan mendonggakkan wajahnya. "Hehehe...iya nih bang, ada seorang akhwat yang sedang nanya. Dia mau konsultasi," ujarnya menjelaskan. 

Aku sedikit terkejut. Akhwat, konsultasi. Serbuan su'udzhon berkeliaran di benakku.

"Gak sebaiknya tuh akhwat konsultasi sama akhwat yang lain aja Ry?" cemasku. Jujur, ada perasaan cemburu mendengar dia sedang sms-an dengan akhwat. Cemburu yang lebih tepatnya cemas. Berapa banyak binaanku yang awalnya bermula dari sms lalu lama-lama menjadi berani berpacaran.

" Hehehe...kenapa sih abangku? Dia cuma tanya sedikit aja kok. Jangan khawatir bang, Insya Allah ane bisa menjaga diri," senyum wajah teduh itu mengembang. 

Aku hanya bisa menganggukan kepala saja. " Semoga saja," batinku.

Pertemuan berikutnya, aku berpapasan dengan Ryan di jalan saat dia mengendarai Kharisma-nya.

" Assalamu'alaikum Bang!" sapanya sambil menghentikan motor tepat di depanku. Dia menyodorkan tangannya.

" Walaikumussalam. Dari mana Ry?" tanyaku.

" Abis ketemuan sama akhwat Bang. Tadi nganter buku yang mau dipinjam," jawabnya.

Deg. Dadaku berdegup agak kencang. Akhwat. Agak sedikit takut jika seorang ikhwan sudah mulai berinteraksi dengan akhwat walaupun hanya melalui sms, apalagi secara frekuentif. Tapi aku berusaha menghadirkan 1001 positive thinking.

Sampai akhirnya akhwat tersebut meminta berbicara di Masjid lewat hijab. Aku yang melihatnya langsung menegur.

" Ry, bukankah baiknya ada yang menemani?" uajrku.

" Afwan Bang, ini permasalahan yang sangat rahasia," Ryan memberikan alasan. "Tenang bang, aku sudah menghijabi hatiku," bisiknya padaku kemudian.

Aku menggangguk mencoba memahami. Kembali kuhadirkan pikiran-pikiran positifku. Aku mempercaya apa yang dikatakan olehnya. Kalau bukan karena dia adalah objek dakwahku dan calon mujahid dakwah berikutnya, tak akan aku memikirkannya seperti ini. Aku hanya bisa berdzikir dalam hati saja.

***

Hingga suatu ketika....

" Abaaaannggggg....!!!!" 

Suara panggilan itu membuatku menoleh ke belakang. Aku baru saja memasuki perkarangan Masjid sekolah saat mereka berlarian menyerbuku.

" Kenapa sih para ikhwan sholeh? Kayaknya ada berita gawat nih?" ledekku sambil memerhatikan wajah beberapa orang pengurus Rohis yang ada dihadapanku.

" Ryan, bang...." ujar salah satu wajah yang ada di hadapanku mulai bersuara.

" Ryan, harus disidang bang! " jerit yang lain.

Aku kebingungan. Disidang? Maksudnya?

"Memangnya dia kenapa?" tanyaku pada akhirnya.

Mata-mata di depanku saling melirik memberikan isyarat.

" Ryan pacaran bang..." satu suara berkata.

Seolah saat itu aku dijatuhi sebuah pohon tinggi yang tepat mengenai kepalaku.

" Dia juga mulai merokok Bang," tambah yang lain.

Pohon lainnya jatuh menimpa kepalaku lagi. Masya Allah...

Setelah kejadian itu, aku segera menghubunginya dan meminta waktu untuk bertemu denganku. Dengan sangat terbuka dia menerima ajakanku untuk bertemu.

Saat bertemu dengannya aku terdiam. Kulihat wajah Ryan yang seperti malu padaku. Aku menahan diri untuk menghakiminya. 

" Maafin ane ya bang," dia mulai bersuara. Aku masih terdiam menahan gejolak rasa yang sepertinya berebutan ingin keluar.

" Ane khilaf bang. Ane sudah mengambil jalan yang salah. Ane tidak bisa mewujudkan seperti yang ane katakan. Ane minta maaf sama abang," Ryan menunduk dalam. Tak berani memandang wajahku.

Aku masih terdiam. Entah rasanya berat sekali bersuara pada saat kondisi seperti ini. Namun aku mencoba menata hati lebih cepat lagi. 

" Ryan ingin melanjutkan hubungan itu atau tidak?" ujarku pada akhirnya.

Ryan terdiam sambil tetap menunduk. Tak lama dia memberanikan diri melihat wajahku.

" Untuk saat ini ane masih mau melanjutkan hubungan itu bang. Maafkan ane ya bang," Ryan mengutarakan pilihannya.

Seolah palu besar memukul tepat di belakang kepalaku. Masya Allah. Innalillahi wa inna Ilaihi Rajiun. Sebuah musibah di jalan dakwah saat melihat ada seorang dai yang memutuskan untuk berhenti. Aku menahan gelegak tangis yang menggelembung di dadaku itu.

Allah, Engkaulah yang memberikan hidayah dan Engkau pula-lah yang mencabutnya...

***

Dan akhirnya Ryan benar-benar hilang, hingga hari ini aku bertemu dengannya.

" Bang! Kali lain ane boleh ke rumah ente ya bang?" 

Sebuah pertanyaan Ryan langsung membuyarkan lamunanku tentangnya. Aku kembali berada di dunia yang sekarang. 

" Oh iya boleh Ry. Datang kalau sempat," jawabku secepatnya.

Dan Ryan pun akhirnya pamit. Dia menjabat tanganku dan segera setelah menaiki motornya, sosok dia menghilang dihadapanku.

Aku kembali berjalan. Air di pelupuk mata berdesakan ingin menuruni pipiku. Semalam sebelumnya air mataku baru saja tumpah saat Isya berjamah di rumah Bang Riko, saudara seperguruanku di Silat Si Bunder. Terasa luluh mendoakan mereka yang aku cintai agar tetap berada dalam hidayah Allah SWT. Dan sekarang, Allah membuka mataku lebar-lebar.

Tadi sebelum aku bertemu Ryan, aku juga baru saja bertemu dengan adik sholehku (baca notes : Sepotong Martabak Dan Ukhuwah Yang Diupayakan). Menasehatinya akan beberapa prilaku yang selama perjalanan ke rumah Bang Riko tidak sesuai dengan prinsip Islami. Walaupun wajahnya sedikit kesal dan BT, namun dia menerimanya. Dan aku pun sedikit menyesal memberikan nasehat pemaksaan itu. Namun aku teringat pesan abangku, Bang Usman, yang bilang kalau ada permasalahan dengan dia langsung dibicarakan saja.

" Aku percaya padamu dek, namun mohon jangan diulangi lagi," ujarku tadi.

Ya Allah, bagaimana jika setan ternyata lebih lihai dan membuatnya kehilangan hidayah? Bagaimana jika adik sholehku mengalami hal yang sama dengan Ryan? Dan bagaimana jika hidayah yang ada padaku hilang karena aku tidak bisa mempertahankannya?

Ya Allah...Aku takut jika hidayah itu perlahan hilang dari orang-orang yang kucintai. Aku takut hidayah itu hilang dari diriku, sehingga kesalehan hanya sebuah memoar saja. Catatan indah yang tak membekas. Astaghfirulloh...

Aku tak dapat mempertahankan air mataku saat sudah berada di dalam bilik kamarku. Aku tersungkur dan memuji Allah sebanyaknya. Hidayah itu akan terus kuperjuangkan untuk mempertahankannya. Hidayah itu akan terus kudoakan lekat bersama orang-orang yang kucintai. Allah...Allah...Allah..

Teringat aku akan mereka-mereka semua yang kehilangan hidayah. Temanku yang rajin mengingatkan akan kesalahanku dalam membaca Qur'an, adikku yang dulu sangat menentang pacaran, sahabatku yang selalu tampil sederhana, karibku yang tak peranhabsen sholat berjama'ah di masjid, dan semunya hilangbegitu saja dalam sebuah memoar keshalehan. Astaghfirullah...Astaghfirulloh...Astaghfirulloh...

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” 
(QS Al Qashash: 56).

" Setan tuh pinter Yass, dia gak berhasil membujuk keburukan sama kita, dia suruh deh orang lain berbuat keburukan dengan cara baik. Gabung sama orang gak bener dengan alasan berdakwah lah, yang ujung-ujungnya kalau kita gak kuat akan terbawa dalam jebakan setan tersebut,"

Petuah Abah Nung, sorang guru silat, terngiang lagi di telingaku.

Ya Allah, jangan Kau jadikan keshalehan itu hanyalah sebuah lembar memoar yang hanya bisa dikenang tanpa diupayakan datang kembali....

Adzan Ashar itu aku tersungkur dan terpekur dalam sebuah sujud yang berisi nama-nama orang yang kucintai agar selalu dalam naungan hidayah Allah. Jangan Kau jadikan kami hamba-hamba-Mu yang merugi Ya Allah...***(yas)




Jakarta, 27th August 2012
1.44 am in my little room

Tuesday, February 2, 2016

Masihkah Kau Istiqomah?

*catatan dari KMGP The Movie



Is.ti.qo.mah??
Kang Urip, Kang Asep and Maksi langsung melotot saat Mas Gagah memberikan nasehat agar ketiga preman insyaf tersebut tetap istiqomah. Selanjutnya mereka mempertanyakan apa makna istiqomah itu sendiri.
Besoknya saat ketiga preman tersebut bertemu lagi dengan Yudhi yang sedang menumpang sholat di mushola mereka, Yudhi pun memberikan nasehat agar mereka juga istiqomah. Lagi-lagi mereka jadi teringat dengan pesan Mas Gagah yang sebelumnya.
Lalu apa makna istiqomah itu sendiri? Jika merujuk arti kata secara bahasa, istiqoma artinya konsisten/bertahan/kuat pendirian. Menjalankan sesuatu itu dengan istimror alias terus menerus. Berat? Bangettttt!!!
Konon ketika Rasulullah SAW menerima perintah untuk Istiqomah melalui burung Hud Hud, rambut Rasulullah sampai berubah menjadi putih saking beratnya. Ya, untuk melakukan sebuah amal kebaikan yang konsisten itu amatlah sangat berat jika tidak dibarengi dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat. 
Namun hasil dari istiqomah adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Sesuai dengan perkataan Allah dalam surat Al Fushilat ayat 30 :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”
Ya, tiga balasan sekaligus : tidak akan merasa sedih, tidak akan merasa takut dan surga! Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Alangkah indahnya.
Saya ingat sekali materi Istiqomah ini diberikan pada semester 1 ketika saya mengikuti perkuliahan di Mahad Al Hikmah. Rekam jejak materi ini begitu melekat kuat di benak saya, sehingga ketika adegan itu muncul di KMGP saya langsung melayangkan fikiran saya ke materi kuliah itu.
Dan film ini mengembalikan ingatan saya tentang makna Istiqomah yang hakiki. Istioqmah yang harus dimiliki oleh seorang yang sudah mengikrarkan dirinya untuk hijrah, dari dunia penuh kegelapan menuju cahaya, dari perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, dari tempat yang buruk menuju ke tempat yang lebih baik. Dan istiqomah ini bukan hanya dalam hitungan tahun tapi madal hayah, sepanjang hidup manusia. Absolutely tough!
Rasanya malu sekali kalau pada saat sebelum saya menonton KMGP, seseorang menanyai keistiqomahan saya dalam berhijrah cry emotikon cry emotikon Entah dimana istiqomah itu berada. Setelah satu dekade lebih dalam fase dakwah dan kehijrahan saya, rasanya hal yang bernama istiqomah itu meluap entah kemana.
Saya mulai merasa jauh dari dakwah, lebih sibuk memikirkan pekerjaan atau jadwal-jadwal travelling saya. Buku islami hanya terbaca beberapa lembar saja kemudian berjanji dalam hati untuk membacanya dikemudian hari. Hafalan Qur'an? Selalu mentok di itu-itu saja tanpa ada kemauan untuk benar-benar menambah ayat-ayat yang baru. Tilawah Al-Qur'an? Walaupun masih dibaca setiap hari tapi jauh dari one juz. Cara berpakaian pun mulai menjauh dari baju koko dan kemeja panjang. Terasa hati gersang. Taman-taman yang dulu segar penuh bunga itu melayu dan kering kerontang.
Hingga sampailah rasa Istioqmah itu kembali hadir. Tepatnya sehari setelah menonton KMGP. Melihat kesederhanaan figur Mas Gagah yang mewah tiba-tiba menjadi sederhana dan konsisten, serasa memberi rintik-rintik hujan di hati saya. Scene demi scene itu mengingatkan seolah flashback ke zaman-zaman saat gelora dakwah saya masih meluap. Baksos di daerah-daerah tertinggal, liqoat, menjadi terasing di tengah orang-orang lain. Seolah Mas Gagah mengingatkan, masihkah kau istiqomah?
Dan malam itu menjadi malam yang akan selalu saya kenang. Malam ketika KMGP pertama kali diputar, dan malam ketika Mas Gagah mengingatkan saya tentang istiqomah. Saya pun berjanji untuk memperbaharui hijrah saya dan berusaha semaksimal mungkin untuk istiqomah hingga akhir hayat. Istiqomah pada kebaikan, istiqomah pada Islam dan Istiqomah pada jalan dakwah ini. Karena sebagimana yang Allah telah katakan, balasan istiqomah adalah kesenangan hidup dan surga Allah! Ya Rabbana, betapa indah balasan untuk mereka yang bisa istiqomah.
KMGP yang sekian lama saya tunggu, Alhamdulillah bisa menjadi titik balik saya untuk kembali berhijrah dan beristiqomah. Kembali kepangkuan fitrah dan jalan dakwah yang indah. Sebuah nasehat melalui sebuah film yang sangat mengena sekali di hati saya. Ya Rabbana, rasanya saya ingin benar-benar menangis acapkali saya menonton film ini. Kau tampar hamba lewat kata-kata sederhana di film ini dan lewat scene-scene indah yang tak terasa menggurui. 
Terima kasih Allah, terima kasih Mas Gagah. Terima kasih atas sosokmu itu. Baik ketika kau berada di dalam sebuah majalah bernama ANNIDA, berada dalam novel, atau berada dalam film, kau selalu berhasil membuatku terpacu untuk berbuat baik lagi. Dan aku pun hanya bisa mencoba untuk mengikuti kata-katamu untuk istiqomah. Aku hijrah dan aku akan istiqomah. Insya Allah.***(Yas)


Jakarta, 31st of January 2016
23.54 pm at my bedroom

Thursday, January 14, 2016

Sedekah Bijak




Malam itu lagi kepengen banget makan salad-nya Pizza Hut. Efek dari bangun tidur sampe menjelang malam belum makan nasi, maka yang diincer sehabis sholat Isya adalah SALAD! Kebetulan kakak saya membelikan anaknya alias keponakan saya, Bento Teriyakinya KFC, jadilah saya kepengen juga. OMG! Biasanya sih cuma laper mata aja, setelah itu ujung-ujungnya pasti gak abis. Hadeeehh...

Sebelum ke PH deket rumah, saya mampir dulu sebentar ke Indomaret untuk membayar TV Langganan. Saat masuk saya melihat tiga orang sedang sibuk di meja kasir menukarkan uang receh yang mereka punya. Awalnya sih saya biasa aja tapi setelah selesai dengan mesin kiosk Indomaret saya mengantre di kasir untuk membayar bill saya. Dan dengan jelas saya melihat berkantung-kantung ruang receh ditukarkan ketiga orang tersebut. Dari penampilannya saya bisa memastikan bahwa ketiga orang tersebut adalah pengamen. Keyakinan saya diperjelas dengan gitar yang disandang salah seorang dari mereka dan gendang oleh seorang yang lain. 

Saya melihat kantong-kantong uang itu dengan mata kepala saya sendiri. Jika dirupiahkan mereka mendapatkan kurang lebih sekitar 400-500 ribu! Itu terlihat dari kantong-kantong plastik yang telah ditulisi oleh kasir Indomaret. OMG! This is insane! Since I only got half less than theirs. Jika rata-rata keuntungan bersih mereka sekitar 300 ribuan dan mereka mendapatkan penghasilan itu selama 20 hari kerja misalnya, so they have got 6 millions a month!! *kejang-kejang

Pagi sebelumnya, saat saya ke Alfamart, saya juga melihat tiga anak kecil menukarkan uang receh  dan mereka mendapatkan uang 100 ribu. Padahal itu masih tengah hari. Gak kebayang, mereka akan dapat berapa jika menukarkan recehan itu pada sore hari.

Kemudian saya teringat dengan sebuah artikel yang pernah di share seorang teman di beranda facebooknya. Seorang temannya, menolak untuk memberikan rupiahnya kepada seorang pengemis di pinggir jalan. Sebaliknya dia malah memberikan uang lebih kepada seorang tua renta yang menjual sapu lidi. Pada kesimpulan orang tersebut, memberikan uang kepada pengemis adalah sebuah kesalahan karena membuat mereka menjadi malas dan enggan bekerja. Apalagi pengalaman orang tersebut yang mendapatkan penolakan dari seorang pengemis yang diajaknya bekerja tetapi malah ditolak mentah-mentah dikarenakan pendapatan mengemisnya lebih besar daripada bekerja pada orang tersebut. Ditambah lagi sekarang pengemis sudah mempunyai koordinator yang akan mengkordinir kerja mereka. Siapa yang tidak tergiur dengan duduk-duduk di pinggir jalan mengharap belas kasih orang lalu mendapatkan uang lebih besar dari mereka yang bekerja.

Kemudian ada orang-orang yang bekerja menjual sesuatu sekuat tenaga mereka demi menghindari diri dari pekerjaan mengemis. Kadang yang mereka jual pun tidak semua orang membutuhkannya. Sehari bisa terjual lebih dari satu saja mungkin tidak setiap hari terjadi. Belum lagi betapa lelahnya mereka menjajakan di pinggir jalan tapi hingga hari usai belum ada yang membeli barang dagangan mereka. Pada suatu kasus bahkan ada yang berjalan sepanjang hari sejauh mata memandang, namun barang yang dijual hanya terjual satu atau dua saja :'( :'( Maka tidak salah jika orang tersebut memberikan uang lebihnya untuk seorang penjual renta tersebut. Karena disitu ada usaha mereka untuk bekerja dan mendapatkan rizki secara barokah. 

Hiks, saya jadi teringat beberapa orang penjual langganan saya ataupun yang pernah saya temui. Ada seorang nenek yang berjalan jauh demi menjajakan kue pisang miliknya, ada seorang bapak yang memanggul lemari, ada bapak lainnya yang membawa bale kayu, dan lainnya. Sesungguhnya merekalah yang layak mendapatkan uang lebih dari kita. Namun kadang jika ada orang yang membeli  barang dagangan mereka, mereka akan menawarnya serendah mungkin. Bandingkan jika kita masuk ke sebuah mall dan membeli seuatu yang mahal, There's no bargain! Diterima saja walaupun kadang ada penyesalan di belakang. 

Begitu juga dengan pengamen jalanan. Jangan sangka mereka hidup berkekurangan, sebagian dari mereka justru hidup berkecukupan. Seperti pengalaman saya di atas tadi saat melihat pada pengamen itu menukarkan uang recehnya. Dulu saya pun punya tetangga 'keluarga pengamen' yang berangkat 'kerja' sore dan pulang malam. Pada waktu itu mereka mengontrak di depan rumah saya. Ibunya selalu memakai gelang emas bersusun, anak-anaknya selalu membeli mainan model terbaru, ayahnya mempunyai motor RX King yang zaman itu happening banget! Dan keluarga itu satu-satunya di lingkungan kami yang mempunyai decorder! Zaman itu kalau mau nonton TV swasta harus punya decorder.

Saya pun merenung kembali sepanjang membeli salad dan bento teriyaki itu :) Saya pernah membaca kondisi mental dengan memanfaatkan rasa kasihan orang lain. Mungkin seperti para pengemis itu. Jadi mereka memanfaatkan belas kasihan kita untuk mendapatkan keuntungan. Berbeda dengan para penjual itu yang pada dasarnya mereka tidak pernah minta untuk dikasihani. 

Dan saya pun pada akhirnya harus berpikir ulang untuk mensedekahkan sedikit uang saya ini, apakah diberikan kepada para pengemis dan pengamen itu atau pada orang yang bekerja keras tersebut. Ya, keduanya 'bekerja' dengan versi mereka masing-masing. Yang satu benar bekerja, sedangkan yang satunya pura-pura bekerja. Wallahu'alam bishowab.

Sepenuhnya saya sangat setuju dengan tindakan yang dilakukan orang pada artikel facebook yang dishare teman saya tersebut. Menghargai yang bekerja dan memberi pelajaran bagi yang malas bekerja. Akhir kata, saya teringat sebuah hadits yang mengatakan : Berilah kail bukan hanya memberi ikan,". Menghargai orang lain dengan memberinya reward uang berlebih lebih baik daripada memberikan uang kepada orang lain yang tak jelas digunakan untuk apa.

Yuk, kita lebih bijak untuk bersedekah!***(yass)



Cipinang, 14 of January 2016.
20.17 pm at J.Co
I want you for worse and better!



Sunday, August 3, 2014

RAMAZAN (PART 2)

Kita lanjutan catatan saya di bulan Ramadhan ya...

Selanjutnya setelah sekolah libur, maka kesempatan untuk itikaf menjadi lebih leluasa kembali.

Itikaf pertama saya adalah di sekolah almamater saya di SMAN 43 Jakarta. Subhanallah... ternyata sepi dan kosong melompong. Ketika saya baru sampai kebetulan ketemu dengan beberapa orang teman yang tampaknya sedang mau itikaf di masjid lain. Tapi niat saya kan itikaf bukan untuk ngumpul-ngumpul jadi dengan kesendirian ini justru menurut saya Insya Allah bisa mengkhusyukan ibadah itikaf saya.

Sebetulnya ketika awal Ramadhan datang, saya sudah meniatkan untuk itikaf 10 days full! Tapi yang namanya gangguan ada aja datengnya. Jadi masih seperti tahun-tahun sebelumnya, itikafnya masih itikaf latihan, yaitu itikaf yang pulang pergi. Malam di Masjid, pagi sudah kembali ke rumah lagi.

Kesendirian saya di Masjid yang saya sendiri masih kurang paham gimana menyalakan lampu atau kipas anginnya ini, ternyata cuma sebentar saja. Tak lama datang Pak Syibli. Pak Syibli ini adalah tokoh masyarakat yang setiap bulan Ramadhan selalu menjadi imam sholat taraweh. Beliau sudah hampir lebih dari 20 tahun membimbing dan menjadi imam sholat di masjid sekolah kami ini. Sebenarnya beliau punya partner yang juga sering sholat bersama beliau ketika Ramadhan tiba. Namanya Pak Asmit. Namun setahun sebelumnya Allah sudah terlebih dahulu memanggil beliau. Berbeda dengan Pak Syibli yang kalem dan adem, Pak Asmit ini lebih tegas dan keras. Dia pula lah yang sering membantu kami untuk mengadakan kegiatan-kegiatan Rohis. Dari kocek beliau juga setiap tahunnya keluar uang untuk keperluan sholat taraweh. Semoga Allah menerima amal baik Pak Asmit dan Pak Syibli.

Tak lama sesudahnya datang juga dua orang adik angkatan saya di Rohis, Engga dan Rahman. Jadilah saya tidak itikaf sendirian lagi :) Khusus untuk masjid baru yang sepi ini akan saya tulis di postingan khusus.

Pak Syibli yang walaupun sudah senior masih setia membimbing

Saya juga menyempatkan diri untuk jajal Itikaf di Masjid Jami Al Azhar Jakapermai. Saya lupa tepatnya malam keberapa (yang pasti malam ganjil :). Sebenarnya bukan real itikaf, karena saya datang kesana sekitar jam 3 dini hari. Namun yang membuat saya bingung adalah kok tidak ada qiyamul lail ya? Usut punya usut, ternyata di masjid ini Qiyamul lail dilakukan secara sendiri-sendiri. Pantas saja jam 3 pagi sudah tidak ada aktivitas bersama-sama. Akhirnya saya qiyamul lail sendiri.

Ternyata di perkarang masjid ini juga sudah ada beberapa stand-stand makanan untuk sahur. Jadi peserta itikaf yang tidak terdaftar oleh panitia bisa mencari makanan yang diingininya di sini. Mulai dari nasi padang, bakso malang, nasi rames, dll. Juga ada sebuah minimarket yang merupakan anak cabang dari masjid ini. Sangat membantu para peserta itikaf. Terbukti usai mereka menyelesaikan urusannya masing-masing, stand-stand makanan itu langsung dipenuhi oleh para peserta itikaf.

Setelah menyelesaikan semua urusan di Bekasi. Maka saya kembali hijrah ke rumah orang tua saya di Jakarta. Tepat malam ke-27, selalu ada ritual harus ke Masjid Al-Hikmah, Bangka. Masjid yang begitu banyak kenangan akan ghirah yang dulu masih berapi-api. Masjid yang mengajarkan banyak hal. Masjid yang merupakan simbol keshalehan dan kesederhanaan. Masjid yang selalu dinantikan banyak jiwa yang hatinya kering jika Ramadhan tiba. Mengingat Al-Hikmah, seperti dipaksa membuka lembaran masa lalu. Jika mau ditulis, pasti akan menghabiskan banyak kata untuk menggambarkannya.

Dan malam ke 27, Masjid Al-Hikmah dipenuhi kembali para pecinta Tuhannya. Pas saya datang (saya sengaja datang usai sholat Isya), di Masjid ini sedang ada taujih ruhiyah dari Ustadz Hasib Hasan. Saya bertemu dengan mantan binaan saya di sekolah dulu, Ari, yang setiap tahunnya memang selalu bersama saya ke masjid ini. Alhamdulillah saya kebagian juga sholat tarawehnya. Namun di penghujung selesainya taraweh ada satu hal yang sedikit membuat saya risau. Pembawa acara mengumumkan bahwa pada satu rakaat terakhir di witir akan ada qunut sambil pembacaan doa khatam Qur'an. Menilik kejadian tahun-tahun sebelumnya, qunut ini diperkirakan berlangsung selama 45 menit! Agak bimbang juga, karena beberapa tahun sebelumnya sempat gak kuat juga berdiri. Kebetulan pada waktu itu kondisi badan memang sedang tidak fit. Dan pembawa acara pun memberitahukan bahwa para jama'ah yang tidak kuat diperbolehkan untuk duduk. Namun, tadi sebelum masuk masjid ini sempat melihat seorang nenek dengan kursi rodanya, maka azam untuk kuat berdiri terpancang sudah.

Seperti biasanya, dalam doa khatam Qur'an ini pasti akan banjir air mata (sungguh, menuliskan tentang ini saja membuat mata saya kembali berkaca-kaca). Ketika imam membacakan doa-doa yang artinya saya mengerti, maka seolah diri ini sungguh sangat kecil di hadapan Allah. Seperti, saya ini bukan siapa-siapa kalau bukan karena Rahmat dan kebaikan Allah. Maka saya pun mengucapkan amin dengan merengek-rengek kepada Allah layaknya seorang anak yang ingin sesuatu kepada orang tuanya. Ya Allah, betapa nikmatnya jika kita bisa berdoa pada-Mu dan tersungkur malu di hadapan-Mu.

Masjid Al Hikmah dengan tampilan yang baru

Alhamdulillah selalu ada waktu untuk sholat disini

Suasana yang ramai
Usai menumpahkan air mata dan mengadu pada Allah, maka saya dan Ari selalu menyempatkan diri untuk mengisi perut kosong kami dengan membeli pecel ayam di tempat langganan kami yang berada di samping kiri masjid. Sebenarnya yang kami incar adalah bebek gorengnya, namun karena si abang beberapa tahun belakangan ini tidak jualan bebek, maka kami pun menerima juga ayam gorengnya yang juga maknyos.

Biasanya juga, usai makan pecel ayam kami suka beli jus mangga. Namun karena sudah pukul 11 malam, maka warung jus itu sudah tutup. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk itikaf di Masjid Bimantara, Kebon sirih.

Di Masjid ini saya bertemu kembali dengan beberapa teman-teman lama. Ya, saya ngobrol sekadarnya saja, sekedar bersilaturahmi. Setelah itu fokus kembali dengan ibadah individual kami masing-masing.

Ramadhan kali ini...

Terasa sekali kemerosotan dari segi ibadah. Banyak banget menuruti hawa malesnya ketimbang berlomba-lomba memenuhi target. Tapi Ramadhan itu memang sesuatu yang unik, entah darimana, semangat ibadah itu bermunculan denga  bertubi-tubi. Doa-doa itu senantiasa tulus. Dan kekuatan untuk tidak makan begitu kuat. Tahun ini nikmat sekali mendoakan keluarga dan teman-teman saya. Jika saat saya mendoakan rekan-rekan di sekolah, maka seolah air mata begitu saja berjatuhan. Juga doa special buat my Abdil dan murid-murid saya yang lain. Allah, aku tahu Kau Maha Mendengarkan doa hamba-Mu. Dan aku tahu, tak ada doa yang tak akan kau kabulkan.

Hingga pada malam menjelang Ramadhan-Mu berlari, sungguh banyak penyesalan menyesakkan dada hamba. Penyesalan yang selalu berulang bilangan. Seperti orang dungu yang tak pernah belajar dari kesalahannya. Allah, aku malu sekali. Ramadhan, Laila, bisakah bertemu dengan kalian kembali dalam keadaan yang sudah baik. Niat yang sama setiap tahun, namun menguap begitu saja sampai menjelang. Ya Allah, aku malu, mengetuk di pintu-Mu namun tak ada kebanggaan yang bisa kupamerkan pada-Mu. Aku malu....

Dan malam di penghujung Ramadhan pun, saya kembali tersungkur pada pintu Rahmat-Mu. Mengetuknya berkali-kali, namun tak tahu apakah Kau membukakannya atau tidak. Sementara Ramadhan dan Laila sudah terbang jauh entah kemana. Ya Allah, kubawa dosa ini lagi, lalu seperti biasa, kau memaafkan kembali. Adakah nikmat yang lebih indah selain nikmat Islam dan mendapatkan maaf dan Rahmat dari-Mu?

Ramadhan sudah pergi.....

Bersama kenangan dan tekad yang mungkin jika Allah mengehendaki akan terualang kembali. Lalu, kapan kau bisa mengambil pelajaran Yas? Nantikah, ketika tubuhmu sudah terbujur kaku berbalut selimut putih penanda akhir hidupmu?  Allah maafkan hamba-Mu. Fitri-Mu menjadi obat terbesar bagi hamba. Allah, dekatlah padaku, jangan jauh atau terlalu jauh***(yas).


Jakarta, 4th August 2014
01.14 am @my mom's room
accompany with murottal
#FreedomGaza

Saturday, August 2, 2014

RAMAZAN 1435 (PART 1)

Tulisannya yang benar Ramadan, Ramadhan, atau Ramazan?

Ya, apapun itu, saya hanya ingin menulis sedikit kilas balik tentang Ramadhan saya di 1435 hijriah ini. Ini memang bukan "the best" Ramadhan saya karena saya merasa penurunan ibadah yang teramat tajam, tapi ada juga beberapa hal yang menurut saya sangat istimewa.

Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan pertama tanpa Ibu saya tercinta. Tiga bulan sebelum Ramadhan datang, Allah ternyata lebih senang jika Ibu saya harus merasakan Ramadhan di sisi-Nya. Teramat sedih dan pahit memang. Kerinduan yang mendalam, kehangatan kasih seorang Ibu, yang dulu senantiasa menyertai hari-hari saya, sekarang hilang tanpa bisa dikembalikan.

Sahur terasa aneh ketika tak ada lagi suara Mommy (panggilan khusus saya pada Ibu saya) yang memanggil-manggil. Tak ada lagi argumentasi dan perdebatan dengannya, karena saya lebih menuruti permintaan mata untuk terlelap lagi. Saat buka puasa pun terasa berbeda. Biasanya Mommy yang paling ribut untuk menyiapkan makanan-makanan apa saja yang diminta oleh anaknya. Sebisa mungkin dia akan menyediakan makanan yang diminta anaknya. Tahun ini, terpaksa harus membeli sendiri hidangan untuk berbuka puasa. Yang terasa hilang sekali adalah saat malam takbiran. Setelahnya di 1 Syawal, hanya Babe (panggilan saya untuk ayah) saja tempat saya sungkeman. Terasa berbeda. Terasa sepi. Dan terasa kehilangan gairah untuk hidup. Jika saja bisa, mungkin saya akan meluapkan rasa cinta saya tanpa perlu merasa risih atau takut kepada Mommy. Karena selama ini saya merasakan kurang sekali meluapkan rasa cinta untuk beliau. Kesimpulan terbesar adalah : cintailah orang lain sebelum kita kehilangan kesempatan untuk mencintai orang tersebut.

My mom graveyard
Ziarah sebelum Ramadhan


Tahun ini juga sepertinya saya banyak kehilangan hal berharga dalam hidup saya. Sampai suatu malam saya sempat enggan beranjak dari kamar saya. Saya bertanya kepada Allah kenapa begitu banyak hal yang Beliau ambil dari sisi saya. Ibu saya, dua orang teman saya yang harus dimutasi (Bu Nur dan Bu Yanti serta Bu Vina), berpisah dengan Bu Diah, tidak dikabulkannya permintaan saya untuk membersamai anak kelas 6, dan sebagainya. Tentu saja hal ini membuat saya seolah NUMB dan MATI. Gairah apa yang bisa menaikkan saya ketika banyak hal terbaik yang seketika langsung diambil dari diri ini. Namun penguatan teman-teman, terutama emak-emak rekan satu profesi saya yang akhirya membuat saya mencoba untuk berdiri kuat kembali. Seperti seseorang yang terjatuh dari sebuah tebing yang tinggi, namun dia selamat, dan dia harus mengulang kembali pendakian dia dengan kondisi tubuh yang hancur dan rapuh.

Berpisah dengan Bu Diah dan anak-anak 5C adalah salah satu kesedihan terbesar

Bu Nur dan Bu Vina

 Maka mulailah saya berpositif thinking kembali akan semua hal yang terjadi pada saya. Sebagaimana yang tertulis dalam firman-Nya :

" Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”
(QS. Al-Baqarah : 216)

Dan saya mencoba untuk menapak kaki saya lagi untuk selanjutnya menerima apa yang sudah digariskan oleh Allah. Berdamai dengan hati adalah salah satu solusi pertama ketika kita punya masalah.

Ramadhan kali ini...

Akhirnya saya menerima kembali takdir saya. Ketika akhirnya saya diharuskan "berpisah" dengan Bu Diah, dan konon katanya saya akan berpasangan dengan Bu Kus, guru baru dari Al Azhar JP, namundi last minute justru pasangan saya adalah Pak Nanas. Protes? Ah, sepertinya saya sudah terlalu malu untuk protes kembali kepada Allah. Jalan terbaik bagi saya adalah berdamai dengan keadaan, lalu menumbuhkan husnudzon di pikiran kita. Karena pada hakikatnya Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.

Dan saya pun mencoba menikmati takdir ini. Apalagi saat Pak Nanas memberikan keleluasaan bagi saya untuk merias kelas (bukan merias penganten ya?). Maka segala kreativitas yang sudah lama mengendap di diri saya langsung berusaha saya tampilkan sebaik mungkin. Intinya kelas ini harus rapih, bersih, dan nyaman untuk ditempati belajar. Selain itu, konsentrasi terhadap murid-murid agar bisa belajar dengan maksimal. Biarkan Pak Nanas fokus dengan kurikulum 2013 nya, dan saya mencoba membantu dengan segala fasilitas dan hal yang dibutuhkan. Jika sudah begitu hati pun terasa damai kembali untuk menerima segala sesuatunya. Tempatkan Allah di dalam segala hal dalam perbuatan kita, niscaya Dia akan hadir memberikan kita kedamaian. Hasilnya, banyak keberkahan yang bisa diraih dan hikmah yang bisa dipetik.

Foto bersama anak-anak 5D di kelas yang baru :)

Parsel dari Duto anak kelas 5D

Ramadhan kali ini pun saya untuk pertama kalinya tinggal di Bekasi. Pada awalnya saya memang mengkawatirkan tentang sahur. Tapi saya mencoba memakai siasat, beli makanan untuk sahur pada malam hari jadi saya tidak usah keluar rumah lagi. Namun pada kenyataannya saya justru jarang makan nasi ketika sahur. Cukup beberapa butir kurma, atau snack ringan, Alhamdulillah saya bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Disini pula saya sejak sebelum Ramadhan sudah searching masjid yang bisa dijadikan tempat asyik untuk taraweh dan sholat berjamaah. Masjid di dekat tempat kost memang ada dan seringkali saya sholat jama'ah disana. Jika sedang semangat banget maka saya sempatkan sholat di Masjid Jami Al Azhar Jakapermai. Bacaan imamnya aduuuhhh mantapks banget. Baru terakhir-terakhir saya janjian dengan murid saya untuk sholat di Masjid Babut Taubah yang lokasinya berada di lingkungan tempat saya mengajar. Dan disini, Masya Allah, bacaan imamnya bener-bener bikin saya jatuh hati. Ingin rasanya terus menerus sholat disini. Memang salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mencari masjid untuk sholat adalah bacaan imamnya. Rasulullah juga menyuruh kta untuk memilih Imam sholat yang bacaannya paling fasih. Terkadang saya jadi malas sholat ke Masjid dekat rumah saya di Jakarta karena faktor imam itu tadi.

Ramadhan kali ini ...

Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan Al-Qur'an kembali (khatam). Entah ini khatam untuk yang keberapa kalinya. Setiap Ramadhan pasti saya akan targetkan untuk minimal sekali khatam Al-Quran. Ya, dialah penyejuk jiwa danpenghibur lara. Membasahi hati yang kerontang dan menyiraminya dengan ayat-ayat Allah. Kadang jika sedang "sakit" sekali, sekali membaca atau dibacakan Al-Qur'an saja kita sudah terasa ingin menangis. Apalagi jika yang membacakan atau yang membaca tau apa makna dari ayat yang dibacakan. Seperti bacaan murottal yang sekarang sedang saya sukai. Dibaca oleh Khaled Al-Qahtani. Jika ada ayat-ayat yang menerangkan tentang siksa Allah atau penggambaran neraka, maka Al-Qahtani akan menangis sesegukan. Ah, saya pun yang mendengarnya menjadi ikut sedih dan terharu. Benarlah firman Allah yang mengatakan jika kita mengingat Allah (membaca Al-Qur'an) maka hati kita akan merasa tenang. Karena Qur'an adalah pengobat hati yang sedang sakit.

Syaikh Khaled Al Qahtani

Ramadhan kali ini juga saya merasakan kedekatan dengan murid-murid saya, terutama mereka yang duduk di kelas 6 atau gank khusus yaitu grup Geloo :). Kedekatan itu bukan tanpa makna. Bukan juga hanya sekedar dekat. Tapi kedekatan itu dipenuhi dengan tujuan-tujuan tertentu dari saya, mengingatkan mereka untuk senantiasa mengingat akan Tuhannya.

Awal Ramadhan ini team Geloo yang sekarang sudah kelas 1 SMP bersilaturahmi. Dan dengan jelas, kita pun berselfie-selfie ria. Lalu ada anak-anak kelas 6E yang kelasnya selalu kebagian ditumpangi tidur oleh saya :) Atau entah kenapa pengen banget nyubit pipinya Dysa...hehehe... Kalo ketemu Yoga, udah pasti yang diperdebatkan adalah siapa pilihan presidennya (malas ah bahas presiden). Abdil, jatoh dari motor dan giginya patah. Pokoknya bisa bergaul dengan murid-murid itu terasa asyik juga ya. Bahkan usai buka puasa bersama, sempet main petasan bareng.... hehehe...

Oiya, sempet juga bahas piala dunia bareng Shandy. Bahkan sampe janjian buat nonton kesebelasan favorit kita yaitu Jerman. Namun ujung-ujungnya malah ketiduran. Adanya piala dunia di bulan Ramadhan memang menjadi fenomena tersendiri. Kayaknya jadi gampang buat bangun sahur. Semoga saja kebersamaan dengan murid-murid ku tersayang ini bukan saja hanya sekarang tapi bisa terus berlanjut walaupun mereka sudah beranjak pergi.

Adu capres bareng Yoga

Kunjungan The G*LO

My Reyhan

Bicarain bola via BBM bareng Shandy

Selalu narsis kalo ada kesempatan

Dysa (kiri) dan Rangga (Dua dari kanan) penghuni 6E

My Abdil yang bibirnya jontor akibat jatoh dari motor


Hmmm.... untuk selanjutnya nanti kita lanjutkan yang di part ke 2 aja ya. Takut postingannya kepanjangan nih. Hihihi.... Selamat membaca kembali.



Jakarta, 3rd of August 2014
02.22 am @livingroom accompany with many mosquitoes
Masih rindu Ramadhan... :,(